Selasa, 14 Oktober 2014

Relationship_CERPEN



Hello Publickers? Salam keceriaan untuk kita semua, thanks buat kalian yang udah baca blog aku. Tunggu cerpen aku selanjutnya ya, and get follow my twitter. @Erlitaa24 , mau kasih question atau kritik? Langsung aja ke email aku Erlita.yuniya24@gmail.com . See You Next time J Selamat membaca!
~
RELATIONSHIP
Cinta? Jangan tanyakan hal itu lagi, untuk cewe remaja seusiaku ini. Umur lima belas tahun bukan lah waktu yang tepat untuk mendefinisikan arti kata cinta. Tapi apa boleh buat, dalam usia sedini ini semua hal menjadi teramat rancu. Terutama saat ini, mungkin cinta adalah penghianatan mu yang tak bisa aku salah kan. Atau mungkin cinta adalah kepercayaan ku yang telah kamu salah gunakan, atau bisa jadi cinta adalah jarak dan kesibukan ku yang kamu jadikan alasan penghianatan, atau bahkan mungkin cinta hanya sekedar bintang terang yang melesat jatuh tanpa makna apapun.
Terserahlah...
Apapun makna dari cinta, bukan kah mengimplementasikannya jauh lebih penting dari pada sekedar mendebatkan definisinya? Suer deh aku emang nggak pernah nyalahin kamu, sebab! Mungkin begitu lah semestinya. Hanya saja aku nggak habis pikir,  mengapa perih ini harus ada? karena, setahuku cinta hanya mendatangkan suka, tawa dan hujan cahaya. Waw! Exciting banget ya, tetapi setelah berbulan bulan berlalu baru kali ini ku rasakan. Ada sedikit goresan kata sakit yang mungkin sengaja kamu kasi untuk ku. Sering sekali kamu chatting aku di saat kesibukan ku, kadang kamu juga sering menelpon ku tanpa kenal waktu. Tapi bodohnya aku, aku tak pernah pedulikan itu. “Jauh-jauh kesini tekad ku untuk fokus belajar bukan untuk yang lain” sering kali aku katakan itu saat dia mulai menanyakan alasan mengapa aku tak ada waktu pribadi untuk nya lagi.  Dan pada akhirnya, malam itu “Tiang mencintaimu, tapi saat kita berjauhan sulit bagi ku bertahan dengan setia ku... namanya Luna, dia menemaniku saat kamu memilih meninggalkan Bali dan aku, salahkah aku?”. Aku menangis setelah aku membaca chat dari nya. Entah sejak kapan dia sepuitis itu, aku menerkam hp ku sehabis itu. Ku coba hargai bahasa jujurmu, walaupun untuk dapat memahami nya aku butuh waktu semalam suntuk untuk mengelilingi kota Yogya dengan mata berair.
Aku coba tenang dengan memandangi kota yogya, seiring waktu berlalu terdengar suara hp ku yang berdering lagi. “Mungkin mesage dari dia lagi” entah kenapa aku malah takut untuk melihat pesan nya lagi. Aku berfikir untuk mendiamkan nya saja, aku malah lebih keasyikan melihat kuda yang menarik andong yang kutunggangi ini. “Tapi lama-lama penasaran juga sih. Mungkin sebaik nya aku buka saja chat nya”. “Kamu akan baik-baik saja, sebab tiang tahu kamu demikian adanya. Kokoh! Aku tak akan meminta maaf, karena seiring waktu berjalan aku tahu kamu akan memaafkan ku tanpa aku pinta. Meski ada Luna kini, tak berkurang rasa ku pada mu” akh sulit memang memahami kaummu. Tak ku sangka bahasa orang Bali memang sepuitis ini, sampai sampai aku terharu dan sepertinya akan meneteskan air mata. Memang seharus nya aku sadari, kalau mungkin memang dia tidak berjodoh dengan ku. Kali ini pangeran neptunus tidak berpihak kepada ku.
Lemas sudah sekujur tubuh ku, belum genap lima belas tahun ku ini sebegini sulit nya ya arti cinta buat ku? Oh my god! Sejauh ini kah aku telah berlabuh di dunia dewasa?
Semula aku berharap bisa mengungsi ke planet pluto agar tidak ada kemungkinan untuk bertemu lagi, atau mencuci bersih otak ku dari semua ingatan mu. Kalau itu masih belum berhasil, ya apa boleh buat. Mungkin dengan terpaksa aku akan memendam seluruh perasaan ini.
Tapi pada akhirnya, kamu lah yang benar. Ternyata aku baik baik saja. Malam setelah aku baca pesan mu, telah kuratapi dan ku tangisi lukaku sepuas-puas nya dan esok hari nya aku merasa sebagai orang yang baru.
Bukan! Bukan berarti aku benar-benar telah berpindah ke planet pluto, atau bukan berarti cinta ku luntur oleh tangis semalam. Kamu tetap ada dengan warna yang “semoga” lebih dewasa. Bayangmu yang makin menjauh membuatku paham bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Dan kehilangan atas apapun itu suatu hal yang wajar. Jejak langkah yang kau tinggal di hati ku membuat ku sadar bahwa tak pantas bagiku untuk memelihara rasa kepemilikan, baik itu atas diri mu, diriku sendiri, atau siapapun! Sebab bukan kah kepemilikan hanya lah milik Tuhan semata?
Thank Damar... atas sebagian makna cinta yang pernah kamu cipta. Atas kejujuran mu, atas pelajaran berharga dari sebuah penghianatan, atas semuanya... Telah ku maknai cinta dengan cara ku sendiri.  Dengan berdiri tegak menatap hari depan ku, memenjarakan diri dengan tumpukan buku sekolah ku, menyibuk kan diri dengan mengetik karya cerpen ku, dengan menikmati ice cream di sela kesibukan ku, menenggelam kan diri di dalam musik kesukaan ku, menonton serial komedi, dan menghitung jumlah bintang di atas balkon rumah ku yang mungkin dengan sengaja mereka datang untuk mengunjungi ku. Bahkan mungkin mereka bisa tau suana hati ku, karena saat aku melihat keindahan mereka... dengan waktu yang bersamaan aku meluapkan perasaan ku yang teramat dalam ini. Karena aku tau nggak akan ada lagi pendengar seramah Kinan yang selalu tersenyum walau saat aku menangis. Dia membangkitkan senyum ku, bahkan aku masih ingat senyuman nya sampai saat ini. Walau hampir dua tahun aku tak menemui nya, kornea matanya yang bewarna kecoklatan itu masih aku ingat. Tangan nya yang mengusap pipi ku waktu itu, pundak nya yang sengaja dia gunakan untuk meletakkan kepala ku. Mungkin aku banyak berubah, dari cara berbahasa ku yang kata mu “loe gue loe gue” itu, bahkan aku masih ingat saat kamu melihat akun peth ku. Dengan lantang nya “Kamu tak secupu dulu, foto mu sangat berbeda” katamu,   teman-teman ku kini yang kamu kata “tak seperti pergaulan mu dulu”. Dengan mudah nya aku mengatakan bahwa itu hak ku, “aku berhak melakukan apapun, aku nggak pernah merasa melanggar aturan orang tua ku. Aku juga nggak salah pilih teman! Mereka membawa ku ke zona modern. Aku ingin terlihat lebih di mata mu.” Tapi apa kini? Ternyata aku yang salah. Semua itu justru bikin kamu merasa nggak nyaman lagi. Mungkin memang kesederhanaan lah yang kamu minta. Seperti kita dulu, dengan cara sederhana lah kita saling mengenal, dengan cara sederhana lah kita saling berteman, dengan cara sederhana lah kita saling ingin menjaga, dan dengan cara sederhana lah kamu ingin ku tetap setia. Dan perhatian mu itu loh bikin aku nggak pernah lupa. “Tiang perhatian sama Kinan, jaga diri ya. Tetap jaga martabat kamu sebagai wanita, karena itu lah yang membuat Kinan istimewa di mata tiang.” Itu yang selalu kamu ucapin tiap hari nya. Dia lah satu satu nya orang yang memangggil ku Kinan, sangatlah berbeda dengan nama asliku Erlita. Tapi justru itu lah yang membuat ku selalu mengingat nya, nantinya mungkin tak ada lagi yang memanggil ku Kinan.
Terkadang aku berharap kalau Luna itu hanya pelampiasan mu,  ya memang sudah aku sadari kalau memang cuma kamu yang tau semua. Tau bagaimana menghadapi keegoisan ku ini, aku tau! Aku lebih mementingkan pribadi ku sendiri tanpa mempedulikan orang lain, bahkan kamu. Tapi aku melakukan ini semua bukan lah tanpa sebab, dengan ini semua, dengan perjuangan ku, dengan semua usaha ku aku cuma pengen masa depan ku baik nanti. Tapi flash back memang semua salah aku, aku terlalu teropsepsi dengan semua ini. Bahkan aku terlalu berani untuk hidup di luar pulau sendirian, dengan umur yang menurut ku sedini ini, tapi itu semua aku lakukan karena aku merasa mampu, sangat mampu! Akan selalu ku buktikan itu.
Jarak sangat lah jahat di mata ku ketika aku dihinggapi ingatan akan lelaki itu, Damar memang berhak mendapatkan wanita paras cantik dan juga baik seperti Luna. Betapa bahagianya aku jika dunia hanya selebar lapangan sepak bola di kampungku, hingga tentu saja semua orang penghuni tetap nuraniku bisa lengkap ter-cover di dalamnya. Hingga relung hati nggak perlu lagi merasakan denting perih yang di namakan rindu.
Duh jarak... Mengingat nya membuatku menjadi dongkol sendiri. Saat itu ketika aku resah di landa ketakutan, di tengah sakit fisik yang membelit bersebab keroposnya ginjal yang selama ini aku anggap remeh, Damar tak hentinya mengairkan oase kekuatan untukku. Sikapnya yang menyentuh, tapi lebih dari itu semua.
Akh, cinta... kenapa sih harus berkolaborasi dengan jarak? Tapi tunggu dulu... Pernah nggak sih, kamu ngerasa resah yang tak berujung saat tak mendengar suara renyah kekasih jiwa?  Oh Tuhan, sesulit ini kah memendam rasa.  
Twitter : @Erlitaa24
Erlita.yuniya24@gmail.com
Thanks udah baca, semoga kisah ini bermamfaat buat kalian. Mohon kritik dan saran yaa J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar