Fantasi Ku
Kegembiraan indah ini harus berakhir dengan kejam!
Dan dalam kemenangan mereka mati, seperti api dan bubuk.
“Sebagaimana mereka bercumbu, menikmatinya”
Beberapa orang mengatakan dunia akan berakhir dengan api,
beberapa orang mengatakan dengan es.
Dari hasrat yang telah kurasakan aku setuju pada mereka yang menyukai api.
Tapi jika aku harus mati dua kali, kurasa aku cukup mengenal kebencian.
Untuk mengatakan bahwa kehancuran dengan es, juga hebat! Dan akan mencukupi.
Masa kecil bukanlah tentang lahir dan menjadi dewasa
Dan saat dewasa, sang anak tumbuh dan membuang hal kekanak kanakan
Masa kecil adalah kerajaan dimana tak ada yang mati.
Kegembiraan indah ini harus berakhir dengan kejam!
Dan dalam kemenangan mereka mati, seperti api dan bubuk.
“Sebagaimana mereka bercumbu, menikmatinya”
Beberapa orang mengatakan dunia akan berakhir dengan api,
beberapa orang mengatakan dengan es.
Dari hasrat yang telah kurasakan aku setuju pada mereka yang menyukai api.
Tapi jika aku harus mati dua kali, kurasa aku cukup mengenal kebencian.
Untuk mengatakan bahwa kehancuran dengan es, juga hebat! Dan akan mencukupi.
Masa kecil bukanlah tentang lahir dan menjadi dewasa
Dan saat dewasa, sang anak tumbuh dan membuang hal kekanak kanakan
Masa kecil adalah kerajaan dimana tak ada yang mati.
Lambat laun kini aku
mengerti, kalau semua itu hanyalah fantasi. Inspirasi ku saja yang berlebihan
menilai suatu hal. Bisa di bilang fiktif, tetapi entah mengapa selalu terbawa
dalam mimpi ku. Hal hal yang di luar nalar terjadi! Entah nyata atau tidak. Aku
selalu mengalir di dalam nya, seperti air mata yang mengalir sesuai dengan apa
yang ada di pusat pikiran dan emosi ku.
Cahaya... ada cahaya! Aku membuka mata ku. Ternyata hanya cahaya matahari pagi yang mulai menyinari jendela kamarku. Aku pikir mereka yang datang, para malaikat malaikat aneh yang selalu hampir setiap hari datang di mimpi ku.
“Mereka datang lagi Bu. Sangat terang, mereka bersinar sampai sampai aku tak dapat melihat wajah nya sedikit pun.”
“Kapan? Dan dimana?”
“Di mimpi ku Bu, mereka membawa bongkahan es yang sangat besar. Dan rombongan belakang mereka membawa api yang menyembur sangat kuat. Aku serasa akan di serbu mereka! Aku ketakutan. Ibu mengerti kan?”
“Iya sayang Ibu tau, kalau anak Ibu ini sudah remaja. Pasti banyak sekali inspirasi di otak kamu, itu cemerlang kalau kamu tulis di sebuah cerita. Tapi untuk dunia nyata itu sangat mustahil rasanya, jujur! Ibu sangat khawatir. Mungkin kamu harus kurangi nonton film-film horor kesukaan mu itu.”
Cahaya... ada cahaya! Aku membuka mata ku. Ternyata hanya cahaya matahari pagi yang mulai menyinari jendela kamarku. Aku pikir mereka yang datang, para malaikat malaikat aneh yang selalu hampir setiap hari datang di mimpi ku.
“Mereka datang lagi Bu. Sangat terang, mereka bersinar sampai sampai aku tak dapat melihat wajah nya sedikit pun.”
“Kapan? Dan dimana?”
“Di mimpi ku Bu, mereka membawa bongkahan es yang sangat besar. Dan rombongan belakang mereka membawa api yang menyembur sangat kuat. Aku serasa akan di serbu mereka! Aku ketakutan. Ibu mengerti kan?”
“Iya sayang Ibu tau, kalau anak Ibu ini sudah remaja. Pasti banyak sekali inspirasi di otak kamu, itu cemerlang kalau kamu tulis di sebuah cerita. Tapi untuk dunia nyata itu sangat mustahil rasanya, jujur! Ibu sangat khawatir. Mungkin kamu harus kurangi nonton film-film horor kesukaan mu itu.”
Ibu memang tidak mengerti
apa yang aku ingin kan, ya... walaupun aku yakin kalau suatu saat nanti dia
pasti mengerti. Tetapi semua itu memang serasa nyata, aku merasa di datangi
sosok menyeram kan. Walau pun mereka terkadang terlihat terang seperti cahaya
yang sangat kuat. Terkadang mereka juga seperti api, api itu berkorbar sangat
kencang. Menyeramkan! Aku sering melihat mereka di mimpi ku, aku tak yakin
mereka siapa. Tapi aku sebut mereka malaikat, malaikat yang dalam benakku
adalah titisan Tuhan yang berusaha untuk mengeluarkan ku dari belenggu penyakit
yang semakin lama mengikis umur muda ku ini. Entah sampai kapan aku bisa
bertahan! Atau mungkin memang malaikat malaikat itu memang sengaja datang untuk
menjemputku, akankah?
Terkadang aku lebih memilih tidak tidur, kalau harus bertemu mereka dalam mimpi ku lagi.
Terkadang aku lebih memilih tidak tidur, kalau harus bertemu mereka dalam mimpi ku lagi.
Kalau memang itu semua
hanya fantasi, lalu bagaimana dengan kenyataan yang akan aku hadapi nanti nya.
Aku mungkin saja tidak akan bertahan lama, aku menyadari umur ku yang tak lama
lagi, penyakit kanker ku ini sudah tak tertahan lagi, belakangan ini aku sering
menulis story in my life dalam bentuk cerita pendek yang sesuai dengan apa yang
terjadi. Itu sengaja aku lakukan, aku hanya ingin tulisan ku itu berguna bagi
banyak orang. Keluarga, teman, saudara, atau siapapun yang mengenalku dapat
mengenangku dengan tulisan tulisan ku itu. Aku ingin di kenang mereka dengan
karya ku, walaupun memang tak seberapa mungkin.
To realize what we used to have we don’t have it anymore. There’s no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor, so keep in mind all the sacrifices i’m making.
Will keep you by my side, will keep you from walking out the door
cause there’ll be no sunlight if I lose you baby
Lagu itu seakan jadi kenangan indah untuk ku, setiap syair nya selalu terbayang dalam fikiran ku. Alunan nada nya seperti berbisik di telinga ku. Dia lah yang menemani ku dalam kesepian, lagu itu selalu membuat ku semakin semangat disaat kesedihan, dan kebahagiaan. Semasa kecil ku hingga sekarang ini. Lagu itu selalu ada, bahkan kadang aku merasa hidup ku serasa seperti puisi yang mengandung banyak majas, seperti majas hiperbola. Berlebihan! Padahal dari kecil aku selalu di beri nasehat sesuatu yang berlebihan itu tak akan pernah baik. Apakah ini semua berlebihan? Bahwa aku ingin bahagia dan aku berusaha untuk itu! Tapi apakah itu benar? Atau malah sebalik nya, hidup ku sangat minimalis. Sederhana, karna aku merasa sendiri. Tiada hasrat yang mampu menarik perhatian ku, kapan aku mulai bangkit? Atau memang aku tak bisa bangkit. Jika semua ini adalah jawaban atas semua pertanyaan dan permohonan ku kepada Mu. Itu tanda nya aku memang tak sanggup, dan bila ini ujian untuk ku akan ku mulai dengan tersenyum. Bila semua ini masih tak berguna, biar aku hadapi ini semua. Tenang dan selalu percaya bahwa mukzizat itu pasti ada.
Pagi
itu aku rasakan sangat sangat sepi, tak ada lagi suara ibu yang biasa nya
berteriak teriak membangunkan ku. Tak ada pula jam weker yang biasa nya membuat
pagi ku berisik.To realize what we used to have we don’t have it anymore. There’s no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor, so keep in mind all the sacrifices i’m making.
Will keep you by my side, will keep you from walking out the door
cause there’ll be no sunlight if I lose you baby
Lagu itu seakan jadi kenangan indah untuk ku, setiap syair nya selalu terbayang dalam fikiran ku. Alunan nada nya seperti berbisik di telinga ku. Dia lah yang menemani ku dalam kesepian, lagu itu selalu membuat ku semakin semangat disaat kesedihan, dan kebahagiaan. Semasa kecil ku hingga sekarang ini. Lagu itu selalu ada, bahkan kadang aku merasa hidup ku serasa seperti puisi yang mengandung banyak majas, seperti majas hiperbola. Berlebihan! Padahal dari kecil aku selalu di beri nasehat sesuatu yang berlebihan itu tak akan pernah baik. Apakah ini semua berlebihan? Bahwa aku ingin bahagia dan aku berusaha untuk itu! Tapi apakah itu benar? Atau malah sebalik nya, hidup ku sangat minimalis. Sederhana, karna aku merasa sendiri. Tiada hasrat yang mampu menarik perhatian ku, kapan aku mulai bangkit? Atau memang aku tak bisa bangkit. Jika semua ini adalah jawaban atas semua pertanyaan dan permohonan ku kepada Mu. Itu tanda nya aku memang tak sanggup, dan bila ini ujian untuk ku akan ku mulai dengan tersenyum. Bila semua ini masih tak berguna, biar aku hadapi ini semua. Tenang dan selalu percaya bahwa mukzizat itu pasti ada.
Aku terkejut dengan semua yang ada di sekelilingku, “Kenapa semua putih?”. Semua benda benda dikamar ku termasuk cat tembok pun berubah menjadi putih. Lukisan masa kecil ku yang sangat dipenuhi dengan gradasi warna kini hanya menjadi selembar kertas putih yang kosong.
Tiba tiba ada yang memegang tangan ku, aku terkejut dan menutup mataku. Jantung ku berdetak sangat kencang, mungkin karena memang saat itu aku sangat ketakutan. Aku tak berani membuka mataku. “Buka matamu, lihat lah aku. Tidak kah kau merindukan ku?”. Aku mulai membuka mataku perlahan, walaupun di hati ku masih ketakutan. Dia memelukku, menangis dan meneteskan air mata di pundak ku. “Ayah!” dia tersenyum padaku, “mungkin kah? tapi ini mustahil, padahal ayah sudah meninggal tiga tahun yang lalu”. Ayah menarik tangan ku, dia seperti menarik ku kearah cahaya yang begitu sangat terang. “Apa itu? kita mau kemana ayah?” ayah hanya tersenyum, dia tak menjawab pertanyaan ku. Semakin ku mendekati cahaya itu badan ku semakin serasa melayang, entah apa itu. Aku tak peduli! Yang pasti aku bisa bertemu ayah ku lagi, aku sangat menikmatinya. Dalam hati ku “mungkin ini mimpi, tapi biarlah biar aku nikmati semua ini. Andai semua dapat ku kendalikan, aku tak mau terbangun dari mimpi indah ini.”
“Ikutlah ayah, ayo ikutlah ayah!” terdengar suara tangisan, “Siapa itu?” seperti suara Ibu. Ayah, kenapa ibu menangis? Dimana dia?” Cahaya itu semakin lama semakin menghilang, tiba tiba sampai lah aku dan ayah di suatu keramaian. Tapi semua orang menangis, ada apa? Apa yang terjadi ini. “Peti mayat? Siapa yang meninggal? Ayah! Jawab pertanyaan ku!” ayah mengacungkan jarinya kearah ku. “Aku? Maksut ayah apa?” Iya Ayah benar, ternyata memang aku, Aku telah meninggal dunia. Foto ku terpajang di atas peti mayat itu. Mungkin memang inilah akhir hidup ku, kini aku harus rela membiarkan ibu ku hidup sebatang kara. Tapi aku benar benar tak percaya ini semua terjadi, inikah rasa nya mati? Terdengar suara kaki yang berjalan menuju ke arah ku “Siapa itu? aku tak bisa melihatnya.” Suara itu semakin mendekat, “Buka matamu! Ayo bangunlah” Ada kekuatan yang menarik ku ke arah belakang yang gelap. Sedangkan aku ingin kedepan menuju arah suara itu, aku berusaha terus kedepan tapi kekuatan itu semakin kuat. Ku coba tenang, mungkin dengan tenang bisa membantu ku untuk lebih kuat. Kekuatan itu semakin melemah, aku mendekati suara itu. Serasa melewati sebuah lorong yang di penuhi cahaya. “Seperti di rumah sakit, bukan nya aku sudah mati?”
“Hush! Ngomong apa kamu! Kamu sekarang di rumah sakit Erlita... Ibu sudah menunggu mu siuman selama tujuh hari. Tujuh hari yang lalu kamu di operasi, dan bersyukur setelah di uji kembali semua penyakit kamu sudah bisa teratasi seratus persen. Bersyukurlah sayang, berhari hari ibu cemas dengan kondisi kamu.”
“Berarti aku masih hidup? Aku sembuh?” Ibu ku meneteskan air mata. Itu artinya saat aku bertemu ayah kemarin ada lah saat-saat aku koma. Syukurnya aku berhasil keluar dari zona itu, aku masih tak menyangka penyakit berat ku itu bisa tersembuhkan. Aku masih bisa melanjutkan hidup ku seperti lima tahun lalu, saat tubuhku masih normal. Dan kini aku pun semakin tau, kalau mereka para malaikat malaikat misterius itu hanya lah fantasi. Hanya mimpi ku saja, termasuk saat aku bertemu ayah.
Pada akhirnya aku masih bisa merasakan pelukan ibu kesayangan ku ini, dan hal terindah lain nya adalah tubuh ku tak bergantung lagi pada obat obatan yang membuat ku mual setiap hari nya. Kepala ku tak lagi pusing, wajah ku tak lagi pucat. Aku normal!