Selasa, 14 Oktober 2014

Fantasi Ku_ Cerpen @Erlitaa24



  Fantasi Ku

Kegembiraan indah ini harus berakhir dengan kejam!
Dan dalam kemenangan mereka mati, seperti api dan bubuk.
“Sebagaimana mereka bercumbu, menikmatinya”
Beberapa orang mengatakan dunia akan berakhir dengan api,
beberapa orang mengatakan dengan es.
Dari hasrat yang telah kurasakan aku setuju pada mereka yang menyukai api.
Tapi jika aku harus mati dua kali, kurasa aku cukup mengenal kebencian.
Untuk mengatakan bahwa kehancuran dengan es, juga hebat! Dan akan mencukupi.
Masa kecil bukanlah tentang lahir dan menjadi dewasa
Dan saat dewasa, sang anak tumbuh dan membuang hal kekanak kanakan
Masa kecil adalah kerajaan dimana tak ada yang mati
.
Lambat laun kini aku mengerti, kalau semua itu hanyalah fantasi. Inspirasi ku saja yang berlebihan menilai suatu hal. Bisa di bilang fiktif, tetapi entah mengapa selalu terbawa dalam mimpi ku. Hal hal yang di luar nalar terjadi! Entah nyata atau tidak. Aku selalu mengalir di dalam nya, seperti air mata yang mengalir sesuai dengan apa yang ada di pusat pikiran dan emosi ku.
 Cahaya... ada cahaya! Aku membuka mata ku. Ternyata hanya cahaya matahari pagi yang mulai menyinari jendela kamarku. Aku pikir mereka yang datang, para malaikat malaikat aneh yang selalu hampir setiap hari datang di mimpi ku.
“Mereka datang lagi Bu. Sangat terang, mereka bersinar sampai sampai aku tak dapat melihat wajah nya sedikit pun.”
“Kapan? Dan dimana?”
“Di mimpi ku Bu, mereka membawa bongkahan es yang sangat besar. Dan rombongan belakang mereka membawa api yang menyembur sangat kuat. Aku serasa akan di serbu mereka! Aku ketakutan. Ibu mengerti kan?”
“Iya sayang Ibu tau, kalau anak Ibu ini sudah remaja. Pasti banyak sekali inspirasi di otak kamu, itu cemerlang kalau kamu tulis di sebuah cerita. Tapi untuk dunia nyata itu sangat mustahil rasanya, jujur! Ibu sangat  khawatir. Mungkin kamu harus kurangi nonton film-film horor kesukaan mu itu.”
Ibu memang tidak mengerti apa yang aku ingin kan, ya... walaupun aku yakin kalau suatu saat nanti dia pasti mengerti. Tetapi semua itu memang serasa nyata, aku merasa di datangi sosok menyeram kan. Walau pun mereka terkadang terlihat terang seperti cahaya yang sangat kuat. Terkadang mereka juga seperti api, api itu berkorbar sangat kencang. Menyeramkan! Aku sering melihat mereka di mimpi ku, aku tak yakin mereka siapa. Tapi aku sebut mereka malaikat, malaikat yang dalam benakku adalah titisan Tuhan yang berusaha untuk mengeluarkan ku dari belenggu penyakit yang semakin lama mengikis umur muda ku ini. Entah sampai kapan aku bisa bertahan! Atau mungkin memang malaikat malaikat itu memang sengaja datang untuk menjemputku, akankah?
Terkadang aku lebih memilih tidak tidur, kalau harus bertemu mereka dalam mimpi ku lagi.
Kalau memang itu semua hanya fantasi, lalu bagaimana dengan kenyataan yang akan aku hadapi nanti nya. Aku mungkin saja tidak akan bertahan lama, aku menyadari umur ku yang tak lama lagi, penyakit kanker ku ini sudah tak tertahan lagi, belakangan ini aku sering menulis story in my life dalam bentuk cerita pendek yang sesuai dengan apa yang terjadi. Itu sengaja aku lakukan, aku hanya ingin tulisan ku itu berguna bagi banyak orang. Keluarga, teman, saudara, atau siapapun yang mengenalku dapat mengenangku dengan tulisan tulisan ku itu. Aku ingin di kenang mereka dengan karya ku, walaupun memang tak seberapa mungkin.

To realize what we used to have we don’t have it anymore. There’s no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor, so keep in mind all the sacrifices i’m making.
Will keep you by my side, will keep you from walking out the door
cause there’ll be no sunlight if I lose you baby
            Lagu itu seakan jadi kenangan indah untuk ku, setiap syair nya selalu terbayang dalam fikiran ku. Alunan nada nya seperti berbisik di telinga ku. Dia lah yang menemani ku dalam kesepian, lagu itu selalu membuat ku semakin semangat disaat kesedihan, dan kebahagiaan. Semasa kecil ku hingga sekarang ini. Lagu itu selalu ada, bahkan  kadang aku merasa hidup ku serasa seperti puisi yang mengandung banyak majas, seperti majas hiperbola. Berlebihan! Padahal dari kecil aku selalu di beri nasehat sesuatu yang berlebihan itu tak akan pernah baik. Apakah ini semua berlebihan? Bahwa aku ingin bahagia dan aku berusaha untuk itu! Tapi apakah itu benar? Atau malah sebalik nya, hidup ku sangat minimalis. Sederhana, karna aku merasa sendiri. Tiada hasrat yang mampu menarik perhatian ku, kapan aku mulai bangkit? Atau memang aku tak bisa bangkit. Jika semua ini adalah jawaban atas semua pertanyaan dan permohonan ku kepada Mu. Itu tanda nya aku memang tak sanggup, dan bila ini ujian untuk ku akan ku mulai dengan tersenyum. Bila semua ini masih tak berguna, biar aku hadapi ini semua. Tenang dan selalu percaya bahwa mukzizat itu pasti ada.
            Pagi itu aku rasakan sangat sangat sepi, tak ada lagi suara ibu yang biasa nya berteriak teriak membangunkan ku. Tak ada pula jam weker yang biasa nya membuat pagi ku berisik.
Aku terkejut dengan semua yang ada di sekelilingku, “Kenapa semua putih?”. Semua benda benda dikamar ku termasuk cat tembok pun berubah menjadi putih. Lukisan masa kecil ku yang sangat dipenuhi dengan gradasi warna kini hanya menjadi selembar kertas putih yang kosong.
Tiba tiba ada yang memegang tangan ku, aku terkejut dan menutup mataku. Jantung ku berdetak sangat kencang, mungkin karena memang saat itu aku sangat ketakutan. Aku tak berani membuka mataku. “Buka matamu, lihat lah aku. Tidak kah kau merindukan ku?”. Aku mulai membuka mataku perlahan, walaupun di hati ku masih ketakutan. Dia memelukku, menangis dan meneteskan air mata di pundak ku. “Ayah!” dia tersenyum padaku, “mungkin kah? tapi ini mustahil, padahal ayah sudah meninggal tiga tahun yang lalu”. Ayah menarik tangan ku, dia seperti menarik ku kearah cahaya yang begitu sangat terang. “Apa itu? kita mau kemana ayah?” ayah hanya tersenyum, dia tak menjawab pertanyaan ku. Semakin ku mendekati cahaya itu badan ku semakin serasa melayang, entah apa itu. Aku tak peduli! Yang pasti aku bisa bertemu ayah ku lagi, aku sangat menikmatinya. Dalam hati ku “mungkin ini mimpi, tapi biarlah biar aku nikmati semua ini. Andai semua dapat ku kendalikan, aku tak mau terbangun dari mimpi indah ini.”
 “Ikutlah ayah, ayo ikutlah ayah!” terdengar suara tangisan, “Siapa itu?” seperti suara Ibu. Ayah, kenapa ibu menangis? Dimana dia?” Cahaya itu semakin lama semakin menghilang, tiba tiba sampai lah aku dan ayah di suatu keramaian. Tapi semua orang menangis, ada apa? Apa yang terjadi ini. “Peti mayat? Siapa yang meninggal? Ayah! Jawab pertanyaan ku!” ayah mengacungkan jarinya kearah ku. “Aku? Maksut ayah apa?” Iya Ayah benar, ternyata memang aku, Aku telah meninggal dunia. Foto ku terpajang di atas peti mayat itu. Mungkin memang inilah akhir hidup ku, kini aku harus rela membiarkan ibu ku hidup sebatang kara. Tapi aku benar benar tak percaya ini semua terjadi, inikah rasa nya mati? Terdengar suara kaki yang berjalan menuju ke arah ku “Siapa itu? aku tak bisa melihatnya.” Suara itu semakin mendekat, “Buka matamu! Ayo bangunlah” Ada kekuatan yang menarik ku ke arah belakang yang gelap. Sedangkan aku ingin kedepan menuju arah suara itu, aku berusaha terus kedepan tapi kekuatan itu semakin kuat. Ku coba tenang, mungkin dengan tenang bisa membantu ku untuk lebih kuat. Kekuatan itu semakin melemah, aku mendekati suara itu. Serasa melewati sebuah lorong yang di penuhi cahaya. “Seperti di rumah sakit, bukan nya aku sudah mati?”
“Hush! Ngomong apa kamu! Kamu sekarang di rumah sakit Erlita... Ibu sudah menunggu mu siuman selama tujuh hari. Tujuh hari yang lalu kamu di operasi, dan bersyukur setelah di uji kembali semua penyakit kamu sudah bisa teratasi seratus persen. Bersyukurlah sayang, berhari hari ibu cemas dengan kondisi kamu.”
“Berarti aku masih hidup? Aku sembuh?” Ibu ku meneteskan air mata. Itu artinya saat aku bertemu ayah kemarin ada lah saat-saat aku koma. Syukurnya aku berhasil keluar dari zona itu, aku masih tak menyangka penyakit berat ku itu bisa tersembuhkan. Aku masih bisa melanjutkan hidup ku seperti lima tahun lalu, saat tubuhku masih normal. Dan kini aku pun semakin tau, kalau mereka para malaikat malaikat misterius itu hanya lah fantasi. Hanya mimpi ku saja, termasuk saat aku bertemu ayah.
Pada akhirnya aku masih bisa merasakan pelukan ibu kesayangan ku ini, dan hal terindah lain nya adalah tubuh ku tak bergantung lagi pada obat obatan yang membuat ku mual setiap hari nya. Kepala ku tak lagi pusing, wajah ku tak lagi pucat. Aku normal!

Relationship_CERPEN



Hello Publickers? Salam keceriaan untuk kita semua, thanks buat kalian yang udah baca blog aku. Tunggu cerpen aku selanjutnya ya, and get follow my twitter. @Erlitaa24 , mau kasih question atau kritik? Langsung aja ke email aku Erlita.yuniya24@gmail.com . See You Next time J Selamat membaca!
~
RELATIONSHIP
Cinta? Jangan tanyakan hal itu lagi, untuk cewe remaja seusiaku ini. Umur lima belas tahun bukan lah waktu yang tepat untuk mendefinisikan arti kata cinta. Tapi apa boleh buat, dalam usia sedini ini semua hal menjadi teramat rancu. Terutama saat ini, mungkin cinta adalah penghianatan mu yang tak bisa aku salah kan. Atau mungkin cinta adalah kepercayaan ku yang telah kamu salah gunakan, atau bisa jadi cinta adalah jarak dan kesibukan ku yang kamu jadikan alasan penghianatan, atau bahkan mungkin cinta hanya sekedar bintang terang yang melesat jatuh tanpa makna apapun.
Terserahlah...
Apapun makna dari cinta, bukan kah mengimplementasikannya jauh lebih penting dari pada sekedar mendebatkan definisinya? Suer deh aku emang nggak pernah nyalahin kamu, sebab! Mungkin begitu lah semestinya. Hanya saja aku nggak habis pikir,  mengapa perih ini harus ada? karena, setahuku cinta hanya mendatangkan suka, tawa dan hujan cahaya. Waw! Exciting banget ya, tetapi setelah berbulan bulan berlalu baru kali ini ku rasakan. Ada sedikit goresan kata sakit yang mungkin sengaja kamu kasi untuk ku. Sering sekali kamu chatting aku di saat kesibukan ku, kadang kamu juga sering menelpon ku tanpa kenal waktu. Tapi bodohnya aku, aku tak pernah pedulikan itu. “Jauh-jauh kesini tekad ku untuk fokus belajar bukan untuk yang lain” sering kali aku katakan itu saat dia mulai menanyakan alasan mengapa aku tak ada waktu pribadi untuk nya lagi.  Dan pada akhirnya, malam itu “Tiang mencintaimu, tapi saat kita berjauhan sulit bagi ku bertahan dengan setia ku... namanya Luna, dia menemaniku saat kamu memilih meninggalkan Bali dan aku, salahkah aku?”. Aku menangis setelah aku membaca chat dari nya. Entah sejak kapan dia sepuitis itu, aku menerkam hp ku sehabis itu. Ku coba hargai bahasa jujurmu, walaupun untuk dapat memahami nya aku butuh waktu semalam suntuk untuk mengelilingi kota Yogya dengan mata berair.
Aku coba tenang dengan memandangi kota yogya, seiring waktu berlalu terdengar suara hp ku yang berdering lagi. “Mungkin mesage dari dia lagi” entah kenapa aku malah takut untuk melihat pesan nya lagi. Aku berfikir untuk mendiamkan nya saja, aku malah lebih keasyikan melihat kuda yang menarik andong yang kutunggangi ini. “Tapi lama-lama penasaran juga sih. Mungkin sebaik nya aku buka saja chat nya”. “Kamu akan baik-baik saja, sebab tiang tahu kamu demikian adanya. Kokoh! Aku tak akan meminta maaf, karena seiring waktu berjalan aku tahu kamu akan memaafkan ku tanpa aku pinta. Meski ada Luna kini, tak berkurang rasa ku pada mu” akh sulit memang memahami kaummu. Tak ku sangka bahasa orang Bali memang sepuitis ini, sampai sampai aku terharu dan sepertinya akan meneteskan air mata. Memang seharus nya aku sadari, kalau mungkin memang dia tidak berjodoh dengan ku. Kali ini pangeran neptunus tidak berpihak kepada ku.
Lemas sudah sekujur tubuh ku, belum genap lima belas tahun ku ini sebegini sulit nya ya arti cinta buat ku? Oh my god! Sejauh ini kah aku telah berlabuh di dunia dewasa?
Semula aku berharap bisa mengungsi ke planet pluto agar tidak ada kemungkinan untuk bertemu lagi, atau mencuci bersih otak ku dari semua ingatan mu. Kalau itu masih belum berhasil, ya apa boleh buat. Mungkin dengan terpaksa aku akan memendam seluruh perasaan ini.
Tapi pada akhirnya, kamu lah yang benar. Ternyata aku baik baik saja. Malam setelah aku baca pesan mu, telah kuratapi dan ku tangisi lukaku sepuas-puas nya dan esok hari nya aku merasa sebagai orang yang baru.
Bukan! Bukan berarti aku benar-benar telah berpindah ke planet pluto, atau bukan berarti cinta ku luntur oleh tangis semalam. Kamu tetap ada dengan warna yang “semoga” lebih dewasa. Bayangmu yang makin menjauh membuatku paham bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Dan kehilangan atas apapun itu suatu hal yang wajar. Jejak langkah yang kau tinggal di hati ku membuat ku sadar bahwa tak pantas bagiku untuk memelihara rasa kepemilikan, baik itu atas diri mu, diriku sendiri, atau siapapun! Sebab bukan kah kepemilikan hanya lah milik Tuhan semata?
Thank Damar... atas sebagian makna cinta yang pernah kamu cipta. Atas kejujuran mu, atas pelajaran berharga dari sebuah penghianatan, atas semuanya... Telah ku maknai cinta dengan cara ku sendiri.  Dengan berdiri tegak menatap hari depan ku, memenjarakan diri dengan tumpukan buku sekolah ku, menyibuk kan diri dengan mengetik karya cerpen ku, dengan menikmati ice cream di sela kesibukan ku, menenggelam kan diri di dalam musik kesukaan ku, menonton serial komedi, dan menghitung jumlah bintang di atas balkon rumah ku yang mungkin dengan sengaja mereka datang untuk mengunjungi ku. Bahkan mungkin mereka bisa tau suana hati ku, karena saat aku melihat keindahan mereka... dengan waktu yang bersamaan aku meluapkan perasaan ku yang teramat dalam ini. Karena aku tau nggak akan ada lagi pendengar seramah Kinan yang selalu tersenyum walau saat aku menangis. Dia membangkitkan senyum ku, bahkan aku masih ingat senyuman nya sampai saat ini. Walau hampir dua tahun aku tak menemui nya, kornea matanya yang bewarna kecoklatan itu masih aku ingat. Tangan nya yang mengusap pipi ku waktu itu, pundak nya yang sengaja dia gunakan untuk meletakkan kepala ku. Mungkin aku banyak berubah, dari cara berbahasa ku yang kata mu “loe gue loe gue” itu, bahkan aku masih ingat saat kamu melihat akun peth ku. Dengan lantang nya “Kamu tak secupu dulu, foto mu sangat berbeda” katamu,   teman-teman ku kini yang kamu kata “tak seperti pergaulan mu dulu”. Dengan mudah nya aku mengatakan bahwa itu hak ku, “aku berhak melakukan apapun, aku nggak pernah merasa melanggar aturan orang tua ku. Aku juga nggak salah pilih teman! Mereka membawa ku ke zona modern. Aku ingin terlihat lebih di mata mu.” Tapi apa kini? Ternyata aku yang salah. Semua itu justru bikin kamu merasa nggak nyaman lagi. Mungkin memang kesederhanaan lah yang kamu minta. Seperti kita dulu, dengan cara sederhana lah kita saling mengenal, dengan cara sederhana lah kita saling berteman, dengan cara sederhana lah kita saling ingin menjaga, dan dengan cara sederhana lah kamu ingin ku tetap setia. Dan perhatian mu itu loh bikin aku nggak pernah lupa. “Tiang perhatian sama Kinan, jaga diri ya. Tetap jaga martabat kamu sebagai wanita, karena itu lah yang membuat Kinan istimewa di mata tiang.” Itu yang selalu kamu ucapin tiap hari nya. Dia lah satu satu nya orang yang memangggil ku Kinan, sangatlah berbeda dengan nama asliku Erlita. Tapi justru itu lah yang membuat ku selalu mengingat nya, nantinya mungkin tak ada lagi yang memanggil ku Kinan.
Terkadang aku berharap kalau Luna itu hanya pelampiasan mu,  ya memang sudah aku sadari kalau memang cuma kamu yang tau semua. Tau bagaimana menghadapi keegoisan ku ini, aku tau! Aku lebih mementingkan pribadi ku sendiri tanpa mempedulikan orang lain, bahkan kamu. Tapi aku melakukan ini semua bukan lah tanpa sebab, dengan ini semua, dengan perjuangan ku, dengan semua usaha ku aku cuma pengen masa depan ku baik nanti. Tapi flash back memang semua salah aku, aku terlalu teropsepsi dengan semua ini. Bahkan aku terlalu berani untuk hidup di luar pulau sendirian, dengan umur yang menurut ku sedini ini, tapi itu semua aku lakukan karena aku merasa mampu, sangat mampu! Akan selalu ku buktikan itu.
Jarak sangat lah jahat di mata ku ketika aku dihinggapi ingatan akan lelaki itu, Damar memang berhak mendapatkan wanita paras cantik dan juga baik seperti Luna. Betapa bahagianya aku jika dunia hanya selebar lapangan sepak bola di kampungku, hingga tentu saja semua orang penghuni tetap nuraniku bisa lengkap ter-cover di dalamnya. Hingga relung hati nggak perlu lagi merasakan denting perih yang di namakan rindu.
Duh jarak... Mengingat nya membuatku menjadi dongkol sendiri. Saat itu ketika aku resah di landa ketakutan, di tengah sakit fisik yang membelit bersebab keroposnya ginjal yang selama ini aku anggap remeh, Damar tak hentinya mengairkan oase kekuatan untukku. Sikapnya yang menyentuh, tapi lebih dari itu semua.
Akh, cinta... kenapa sih harus berkolaborasi dengan jarak? Tapi tunggu dulu... Pernah nggak sih, kamu ngerasa resah yang tak berujung saat tak mendengar suara renyah kekasih jiwa?  Oh Tuhan, sesulit ini kah memendam rasa.  
Twitter : @Erlitaa24
Erlita.yuniya24@gmail.com
Thanks udah baca, semoga kisah ini bermamfaat buat kalian. Mohon kritik dan saran yaa J

Titisan Si Neptunus_CERPEN KU



Hello Publickers? Salam keceriaan untuk kita semua, thanks buat kalian yang udah baca blog aku. Tunggu cerpen aku selanjutnya ya, and get follow my twitter. @Erlitaa24 , mau kasih question atau kritik? Langsung aja ke email aku Erlita.yuniya24@gmail.com . See You Next time J Selamat membaca!
~                                                                                       
Titisan Neptunus

“Tak banyak cara tuhan menyatukan cinta
mungkin engkau adalah salah satu nya.
namun engkau datang di saat yang tidak tepat,
cinta ku telah di miliki...
ini lah akhirnya harus ku akhiri, sebelum cinta mu semakin dalam.
maaf kan diri ku memilih setia
walau pun ku tau cinta mu lebih besar dari nya”


      Lagu itu mulai terdengar lagi disudut kamar kakak ku, entah kenapa dia sangat menyukainya. Ya... walaupun sebenarnya aku merasa itu sangat  membosankan. Mungkin kakak ku merindukan nya lagi, lagi dan lagi. Selalu begitu, depresi di idap nya sejak Marcel mulai pergi dan memilih orang lain. Yang seharusnya kakak ku sadari itu, apakah sebegitu tolol nya dia? Apa sebenarnya yang dia pikirkan. Kadang memang aku nggak bisa bohong kalau aku emang muak, muak dengan semua ini!
“Stop kak! please! Ayolah kak sadar. Aku mohon”  sering aku berkata seperti itu. Ya... dengan maksud agar dia sadar. Aku mengira kalau dengan cara itu lah kakak ku bisa sadar dan kembali lagi seperti dulu, memberi motivasi buat dia dengan bagaimana pun cara nya. Tapi ternyata tidak, semua nya gagal! Mungkin aku belum mahir melalukan nya, akan aku coba lagi. Dulu kakak ku sangat menyayangi ku, dia sering sekali menyanyikan lagu indah melankolis untuk adik kesayangan nya ini, itu yang aku rindukan. Bahkan aku punya panggilan kesayangan untuk nya, yaitu Cici. Benar benar beda jauh dengan nama asli nya Vara yang kemudian menjadi Cici. Tapi dia sangat menyukai nama panggilan itu, terkadang Vara mencubit pipi tembem ku ini. Sesekali dia juga memeluk ku erat, sangat hangat yang aku rasakan. Aku nggak habis pikir dan nggak bisa membayangkan kenapa ending nya bisa kaya gini, mungkin memang benar kata orang nggak semua hal bisa kita dapatkan secara instan. Ok mungkin akan aku coba step by step, aku percaya akan indah pada waktunya.
         Malam itu memang sangat dingin sekali, aku terasa sangat menggigil, sekujur tubuh ku telah terbalut kain yang sangat tebal. Tapi kenapa masih dingin begini, di ruang ini hanya ada aku sendiri.
aku tak berani mematikan lampu kamar ku, aku masih parno dengan film horor yang aku liat bareng teman teman ku sore tadi. “deg!” aduh suara apa itu?
Ternyata suara pintu kamar ku aku lupa menutup nya. Aduh betapa ceroboh nya aku, bagaimana jika ada rampok yang bisa saja dengan mudah melukaiku atau bahkan bisa membunuh ku.
Aku memang sangat menyukai film horor. Tapi sayang nya aku sangat penakut. Jadi, jika sedang di kamar sendirian begini membuat aku tersiksa. Tak bisa tidur biasa nya, padahal dulu Vara lah yang menemani aku. Saat aku ketakutan dan saat nafas ku mulai tidak normal. Ya... aku mengidap asma yang sudah sangat lama aku rasakan. Bahkan jika sangat ketakutan aku biasa nya bisa sampai sesak nafas dan harus di bawa ke rumah sakit. Sangat merepotkan bukan? Tidak bisa mengurus kesehatan pribadi yang harus nya aku lakukan sendiri.
          Bulan kemaren adalah hari ulang tahun ku yang ke enam belas. Tetapi tidak ada perubahan sama sekali di setiap tahun nya, aku masih saja seperti aku yang dulu dulu, yang tahun tahun lalu. Masih tergantung pada obat obatan rumah sakit. Penyakit sesak ku memang sudah turun menurun . Ini membuat ku tersiksa berkelanjutan. Entah kenapa aku merasa aku adalah manusia yang tidak berharga dan hanya merepotkan keluarga ku saja. Sering kali aku menjadi seseorang yang putus asa, merasa bahwa diri ku lah yang paling gagal di antara saudara saudara ku yang lain.
Setiap hari aku  harus ke rumah sakit, cek up dan hanya menghabis habis kan waktu saja. Kembali lagi, dulu memang kakak ku lah yang menemani ku cek up setiap hari nya. Dan tidak lagi untuk sekarang, mungkin besok, atau besok nya lagi aku pun tak tau. Tapi syukur aku punya seorang sepupu yang menyayangi ku. Dia selalu mendengarkan curhat pedih ku. Aku kemudian bergegas tidur, Keesokan harinya aku terbangun dari tidur ku, setelah ada secercah cahaya sinar mentari yang masuk ke ruang tidur ku. Aku langsung bangun dan mengatakan pada dunia kalau aku masih hidup. Masih hidup saat ini tetapi tidak tau untuk besok, entah harus merasa gembira atau tidak. Bagi orang orang normal lain nya mungkin mereka merasa bahagia , tetapi entah dengan ku, aku merasa bosan dengan hidup ku yang begini begini saja, aku ini remaja tetapi tak punya hal yang imajinatif untuk hal apa saja yang harus aku lakukan. Payah sekali bukan?
banyak sekali orang orang yang sangat suka meremehkan ku. Menganggap ku ini adalah anak mami yang selalu merepotkan orang tua ku saja. Sedih sih iya, tapi ya mau gimana lagi. Kemudian aku kembali untuk memijak kan kaki ku kesekolah tercinta ku ini lagi, yang katanya adalah tangga buat masa depan ku esok. Tapi, aku bahkan tak yakin kalau aku punya masa depan.
        “Aduh sakit!” suara ku itu mengejutkan semua orang di ruang kelas ku waktu itu. Asma ku kambuh lagi, guru memberi ku surat izin pulang untuk periksa ke dokter. Lagi-lagi aku merepotkan semua orang. Dan akhir nya aku memutuskan untuk melakukan apapun sendiri. Ya walaupun aku tak tau kalau aku akan bisa atau tidak.
Malam hari nya aku pergi kerumah sakit untuk cek up, kali ini aku sendiri tidak ada yang mengantar ku, tak seperti biasa nya. Lobi tempat aku duduk sangat sepi, aku hanya melihat seorang laki laki yang duduk di kursi ujung ruang sana. Dia terlihat sangat pucat, mungkin dia sedang sakit. Dia melihat ku, sebuah senyuman manis muncul dari wajah nya, terdapat sebuah lesung di pipi kanan dan pipi kiri nya. Waw, sangat menawan! Seperti titisan neptunus yang memang datang untuk membuat ku kasmaran. Aku membalas senyum nya dan kemudian berusaha mendekati nya, tapi entah kenapa dia malah beranjak pergi. Aku merasa ada yang aneh dari nya, tapi hal itu malah membuat aku penasaran. Aku berjalan mendekati ruang informasi, aku bertemu dengan suster susi yang sudah sangat akrap dengan ku.
“Malam suster?” sambil tersenyum ku menatapnya. Dia kemudian melihat ku dan membalas sapaan ku dengan tersenyum.
“Selamat malam... Mbak Erlita habis cek up ya? Kok tumben malem malem, sendirian lagi?”
“Iya sus, kebetulan tadi asma ku kambuh lagi. Dan baru sekarang aku sempet cek up ke dokter.” Aku kemudian bertanya tentang laki laki yang aku sebut titisan neptunus tadi.
“Sus! Aku tadi melihat laki laki di ujung lobi sana, apa suster Susi juga melihat nya? Dia tinggi dan putih.”
“Maaf mbak, tapi setau saya dari tadi tidak ada orang lain, siapapun kecuali mbak Erlita.” Aku beranjak pulang dan tidur.
         
     Matahari terbit lagi! Aku kembali tersenyum. Laki-laki itu semakin membuat ku penasaran, sampai-sampai terbawa ke mimpi.
“Oh my God, dia sosok yang benar-benar misterius!” aku bercerita kepada sepupuku  Bella dengan nada yang agak membentak.
“Serius kamu? Ada yang kasmaran nih?” Bella sengaja meledek ku. Dia memang sepupu yang benar benar menarik menurut ku. Easy going and funny, aku menyayangi nya seperti aku menyayangi kakak ku sendiri. Dia sangat menarik karena dia memiliki banyak kelebihan yang menurut ku sangat istimewa. Indigo, itulah nama ledekan ku untuk nya. Dia bahkan bisa membaca pikiran ku, itu yang membuat ku takut. Apalagi dia bisa melihat hal hal mistis.
“Bella, boleh nggak entar aku minta tolong anterin cek up lagi? Seperti biasa nya”
Sesampainya di rumah sakit, tiba-tiba Bella berteriak “Di belakang mu!” itu sangat mengejutkan ku.
“Ada apa Bella? Kenapa?” Tiba-tiba bulu kuduk ku berdiri, terasa merinding di sekujur tubuh ku “Ada apa ini?”
“Erlita... Kamu ingat nggak laki laki yang menjadi korban kecelakaan yang di bawa ke UGD tiga tahun yang lalu? Kalau tidak salah ia menitipkan sesuatu pada mu.” Aku mencoba mengingat ingat
“Oiyaa... Aku ingat. Memang laki laki itu pernah menitipkan barang kepada ku agar di berikan ke keluarga nya, lalu kenapa?”
“Laki laki itu adalah seseorang yang sering kamu lihat di lobi, dia akhir nya meninggal tiga tahun yang lalu. Dia ingin menagih janji mu agar memberikan titipan nya itu kepada keluarga nya. Tapi kamu telah mengingkari janji mu”
“Astaga!! Jadi dia yang selalu ada di mimpi ku. Seingat aku nama nya adalah Neptunus, dia sempat menyebutkan nama nya sebelum dibawa masuk ke ruang operasi. Dia telah menitipkan cincin dan surat untuk keluarga nya, tapi aku telah melalaikan nya. Berarti selama ini ia sengaja memberi kode pada ku. Tapi aku nya saja yang tak menghiraukan nya, aku malah lebih terkesima melihat wajah tampan dan lesung pipi nya itu. Tiga tahun yang lalu, awal aku melihat nya memang aku sudah sangat menyukai nya meskipun waktu itu aku masih 13 tahun. Baik lah, aku akan berikan titipan mu itu kepada keluarga mu. Maaf kan aku telah melupakan janji ku, ’’ Aku meneteskan air mata.
Aku melihat sosok nya lagi, dia tersenyum manis pada ku. Mungkin dia ingin mengucap kan terima kasih pada ku, Lesung pipi nya terlihat lagi. Aku terkesima, semoga dia bahagia di sana.
Twitter : @Erlitaa24
Erlita.yuniya24@gmail.com
Thanks udah baca, semoga kisah ini bermamfaat buat kalian. Mohon kritik dan saran yaa J

CERPEN Remaja Ter Update : DETIK



Hello Publickers? Salam keceriaan untuk kita semua, thanks buat kalian yang udah baca blog aku. Tunggu cerpen aku selanjutnya ya, and get follow my twitter. @Erlitaa24 , mau kasih question atau kritik? Langsung aja ke email aku Erlita.yuniya24@gmail.com . See You Next time J Selamat membaca!

~
DETIK
Kegembiraan indah ini harus berakhir dengan kejam!
Dan dalam kemenangan mereka mati, seperti api dan bubuk.
“Sebagaimana mereka bercumbu, menikmatinya”
Beberapa orang mengatakan dunia akan berakhir dengan api,
beberapa orang mengatakan dengan es.
Dari hasrat yang telah kurasakan aku setuju pada mereka yang menyukai api.
Tapi jika aku harus mati dua kali, kurasa aku cukup mengenal kebencian.
Untuk mengatakan bahwa kehancuran dengan es, juga hebat! Dan akan mencukupi.
Masa kecil bukanlah tentang lahir dan menjadi dewasa
Dan saat dewasa, sang anak tumbuh dan membuang hal kekanak kanakan
Masa kecil adalah kerajaan dimana tak ada yang mati.
Lambat laun kini aku mengerti, kalau semua itu hanyalah fantasi. Inspirasi ku saja yang berlebihan menilai suatu hal. Bisa di bilang fiktif, tetapi entah mengapa selalu terbawa dalam mimpi ku. Hal hal yang di luar nalar terjadi! Entah nyata atau tidak. Aku selalu mengalir di dalam nya, seperti air mata yang mengalir sesuai dengan apa yang ada di pusat pikiran dan emosi ku.
 Cahaya... ada cahaya! Aku membuka mata ku. Ternyata hanya cahaya matahari pagi yang mulai menyinari jendela kamarku. Aku pikir mereka yang datang, para malaikat malaikat aneh yang selalu hampir setiap hari datang di mimpi ku.
“Mereka datang lagi Bu. Sangat terang, mereka bersinar sampai sampai aku tak dapat melihat wajah nya sedikit pun.”
“Kapan? Dan dimana?”
“Di mimpi ku Bu, mereka membawa bongkahan es yang sangat besar. Dan rombongan belakang mereka membawa api yang menyembur sangat kuat. Aku serasa akan di serbu mereka! Aku ketakutan. Ibu mengerti kan?”
“Iya sayang Ibu tau, kalau anak Ibu ini sudah remaja. Pasti banyak sekali inspirasi di otak kamu, itu cemerlang kalau kamu tulis di sebuah cerita. Tapi untuk dunia nyata itu sangat mustahil rasanya, jujur! Ibu sangat  khawatir. Mungkin kamu harus kurangi nonton film-film horor kesukaan mu itu.”
Ibu memang tidak mengerti apa yang aku ingin kan, ya... walaupun aku yakin kalau suatu saat nanti dia pasti mengerti. Tetapi semua itu memang serasa nyata, aku merasa di datangi sosok menyeram kan. Walau pun mereka terkadang terlihat terang seperti cahaya yang sangat kuat. Terkadang mereka juga seperti api, api itu berkorbar sangat kencang. Menyeramkan! Aku sering melihat mereka di mimpi ku, aku tak yakin mereka siapa. Tapi aku sebut mereka malaikat, malaikat yang dalam benakku adalah titisan Tuhan yang berusaha untuk mengeluarkan ku dari belenggu penyakit yang semakin lama mengikis umur muda ku ini. Entah sampai kapan aku bisa bertahan! Atau mungkin memang malaikat malaikat itu memang sengaja datang untuk menjemputku, akankah?
Terkadang aku lebih memilih tidak tidur, kalau harus bertemu mereka dalam mimpi ku lagi.
Kalau memang itu semua hanya fantasi, lalu bagaimana dengan kenyataan yang akan aku hadapi nanti nya. Aku mungkin saja tidak akan bertahan lama, aku menyadari umur ku yang tak lama lagi, belakangan ini aku sering menulis story in my life. Aku hanya ingin tulisan ku itu berguna bagi banyak orang. Keluarga, teman, saudara, atau siapapun yang mengenalku dapat mengenangku dengan tulisan tulisan ku itu. Aku ingin di kenang mereka dengan karya ku, walaupun memang tak seberapa mungkin.
Hidup ku serasa seperti puisi yang mengandung banyak majas, seperti majas hiperbola. Berlebihan! Padahal dari kecil aku selalu di beri nasehat sesuatu yang berlebihan itu tak akan pernah baik.
Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk ku berlatih konsisten! Konsisten dengan segala apapun hal yang aku lakukan. Melakukan hal yang terbaik, setidak nya aku masih bisa membahagiakan mereka. Mereka yang berperan penting dalam hidup ku. My sixteen, jika aku tak berani, dan tak mampu melawan penyakitku ini. Mungkin itu adalah umur terakhir ku, dokter memfonis umur ku tak banyak lagi. Kanker kelenjar getah bening ku ini semakin lama semakin menyeruak ku, sesekali aku sampai patah semangat dan tak berdaya. Jika aku boleh jujur, sejujurnya jika aku harus pergi entah kapan itu. Ingin sekali aku membawa serta keluarga ku. Mereka yang selalu suport aku, lama sudah aku memendam penyakitku ini. Aku tak berani mengatakan pada mereka, hingga waktu nya nanti, entah sampai kapan itu. Mereka akan mengetahui nya sendiri ketika nafas ku telah berhenti berdetak. Arwah ku tak lagi menyatu dengan tubuh ku. Kalau saja aku punya jam waktu, mungkin aku akan segera mengulang masa kecil ku dulu. Akan ku rubah semua hal buruk ku, dengan cara apapun itu! tanpa kecuali.
            Tepat hari ini adalah, umur ku lima belas tahun lebih tiga ratus enam puluh empat hari, yap tepat! satu  hari lagi aku ulang tahun yang ke enam belas. Kebanyakan orang saat ulang tahun mereka sangat bahagia, karena menurut mereka adalah anugrah terindah. Tetapi... lain hal nya dengan aku, justru semua ini semakin membuat ku tertekan. Sangat ketakutan! “Berapa lama lagi hidup ku?” selalu ada dalam benak ku. Itu yang membuat ku semakin drop! Biasa nya setelah itu aku langsung cek up ke dokter. Hanya memastikan, memastikan berapa lama lagi aku hidup? Tapi doktor tak menjawab. Hanya menyarankan agar aku selalu saja kesehatan, dan... minum obat tentunya! Obat? Iya obat. Apakah itu bisa mengubah jumlah umur ku kelak? Atau... mengurangi rasa sakit ku ini.  Dokter hanya tersenyum, setidaknya dengan senyuman itu aku tau bahwa penyakitku bisa di bilang makin parah. Seringkali aku mengeluh dengan semua ini, tapi kali ini. Tak akan aku habis kan sedikit pun waktu ku untuk hal hal yang menurut ku tak penting. Aku sadar, waktu bagiku sangat lah berharga. Aku sudah bisa menghirup nafas sampai enam belas tahun ini pun sudah sangat membuat ku beruntung! Belakangan ini aku banyak mencoba hal hal baru yang sebelum nya belum pernah aku lakukan. Agar... dalam waktu yang sesingkat itu aku harus merasakan semua. Ya... walau pun tidak semua, mungkin beberapa... atau hanya sebagian kecil banyak hal yang ada di dunia ini. Walaupun begitu, tapi aku tau! Mereka menyayangi aku dengan sepenuh hati.
            Pagi ini, bangku sekolah telah menunggu ku. Tahun pelajaran baru sudah di mulai! Dengan muka pucat ku aku beraksi di sekolah, aku dengan sengaja nya menyembunyikan semua ini. Tentang penyakitku ini, aku harap dengan begini mereka yang selalu mensuport aku tak pernah merasa sedih dengan kondisi ku sekarang. Pagi itu, aku bertemu seorang gadis cantik yang memang juga sedang menderita sakit kanker yang sudah parah. Sampai sampai rambut nya botak, namun bedanya dengan ku. Ia selalu di kelilingi orang yang membantu nya mendorong kusrsi roda dan mengantarnya kemana mana. Tapi aku tak akan lakukan itu, aku aku berjuang sendiri selagi aku mampu!
Twitter : @Erlitaa24
Erlita.yuniya24@gmail.com
Thanks udah baca, semoga kisah ini bermamfaat buat kalian. Mohon kritik dan saran yaa