Senin, 28 Desember 2015

Tanggal 29 Desember 2015

Pergantian tahun baru, sekarang tinggal menghitung jam.
Tak ku sangka, hari ini aku masih dengan nya.

Minggu, 27 Desember 2015

Banyak hal yang menurut ku terkesan menarik, banyak hal yang dapat menyita perhatian ku. Entah, mungkin karena selama ini yang ku rasakan adalah suau hal yang membuat ku bosan. Dengan begitu, ketika aku menemukan suatu hal yang menurut ku sedikit menarik, sudah menyita perhatian ku.

Dia, yang selama ini menurut ku membosan kan tiba tiba menjadi sangat bersahabat di hatiku. Dia yang selama ini menurut selalu mebuat ku ceria, justru sekarang malah membuat ku bosan

Senin, 12 Januari 2015

JUST FOR YOU



Just For You

@Erlitaa24 
“This is my life! Iya inilah hidupku. Aku harap kamu mengerti apa yang udah aku perjuangin selama ini. Aku berusaha jadi orang yang lebih bisa menghargai semua hal yang udah aku perjuangin! Ya walaupun mungkin itu tidak penting buat kamu. Tapi its ok, aku memang sudah mengenalmu sejak lama. Akan ku berusaha mengerti semua perasaan mu. Tapi jangan kali ini, please!”
“Ok, terserah kamu! Mungkin memang aku nggak penting buat kamu, pikirkan kembali semua ini. Apakah sanggup kamu tanpa aku? Bukan nya kamu ngga bisa hidup tanpa aku, itukan katamu? Aku tunggu di taman dekat rumah mu besok malam. Aku tagih jawaban mu, aku siap dengan apa pun yang akan terjadi. Yaudah, good night Bella, mimpi indah”

“Itu perbincangan lewat telepon aku sama dia tadi malem, masih aku ingat ingat di kepala ku. Benar benar masih aku ingat di kepala ku Rin! Menyebalkan.”
“Mengapa? Coba dulu aja ngobrol baik-baik. Kalau harus mengorbankan salah satu pastilah sulit untuk mu, aku tau itu. Jelas-jelas itukan cita cita kamu selama ini. Harus nya Kevin bisa lebih ngerti kamu?”
“Mmm, padahal selama ini dia enjoy aja dengan semua yang aku lakukan. Tapi kenapa baru sekarang, itu keinginan orang tua ku selama ini Karin. Itu juga cita cita aku selama ini, aku berusaha mati matian untuk itu. Belajar pagi siang malam, bahkan aku sampai lupa makan. Tapi kalau hanya untuk ini semua hasil nya. Mending aku mundur, help me Karin”
“Stop Bella! Ini cita cita mu. Jangan pantang semangat gitu dong! Ayolah Bel, jadi semua dukungan aku selama ini sia-sia aja gitu? Pikirkan lagi Bella. Bisa sampai tahap ini itu udah perjuangan besar, benar benar besar buat kamu. Aku bisa rasain itu, ini kan yang kamu pengenin selama ini? Bisa kuliah di tempat yang kamu dambain. Walaupun harus
jauh dari kita, buat aku pribadi sih itu ngga masalah asalkan itu yang terbaik buat kamu”
“Thanks Karin”
(Tunggu lanjutan nya nanti)


Jogja Boy Dancer

CERPEN By :
Erlita.yuniya24@gmail.com
@Erlitaa24

Ah, senang nya jadi remaja seperti ku.
Tiap hari bisa bersanding  dengan teman-teman yang sungguh sangat menyayangi ku.
Bercanda riang, saling pengertian, curhat-curhatan,
bahkan membicara kan kekasih pujaan sendiri pun tak sungkan.
Lucu nya melihat foto-foto ku masa remaja,
insya’allah akan menjadi memory indah ku untuk kelak aku dewasa.
Istilah nya sekarang ini aku sedang proses masa ke jenjang dewasa,
sebisa mungkin aku akan menggunakan waktu ku sebaik mungkin.
Karena aku tak pernah tau, sampai kapan waktu ku akan berakhir.

            Aduh, senangnya... liburan akan tiba! Ayah mengajak ku berkunjung ke Korea Selatan. Ayah akan dinas disana, mungkin untuk beberapa waktu lama nya. “Nggak sabar binggo deh!” disana aku berencana ingin melihat konser boy band Super Junior yang sudah aku dambakan sejak lama. Aku tak sanggup membayangkan wajah tampan mereka yang bisa aku liat secara langsung. Excited banget! “Coba aja kalau liburan ku mulai minggu depan, mungkin aku akan lebih lama liburan di korea dan bisa foto selvie di sana, yey!.”  
“Masha...”
“Iya Bunda...”
“Telepon dari ayah.”
“Iya ayah, ada apa?
Ah ayah... Padahal aku sudah pengen banget liburan ke sana,
Emm... tapi yah.
Kenapa? Bukan nya ayah sudah janji.
tapi yah... Please!!
emm, yaudah yah. Tidak apa-apa.”
“Bunda... bunda... bun”
“Iya Masha... ada apa? Kok cemberut?”
“Ayah membatal kan rencana untuk ke korea katanya, dia untuk sementara waktu harus tinggal di Jakarta untuk mengurus hal-hal penting yang ada disini katanya.”
“Yasudah, kan kamu kapan-kapan bisa liburan kesana untuk liburan tahun depan.”
“Tapi bun, lalu bagaimana dengan rencana liburan ku semester ini.”
“Ya mungkin kamu bisa mengunjungi tempat-tempat lain yang tentu lebih mengasyik kan.”
“Ah Bunda... aku sudah mengimpikan kalau aku akan jalan-jalan ke Korea dengan Ayah.”
“Bagaimana kalau kamu berkunjung ke Jogja! Disana seru loh. Kamu bisa menginap ke rumah mbah Tjitro. Dia jago masak makanan-makanan kesukaan mu.”
“Aduh Bunda... Please deh! Sejak kapan Korea bisa mirip sama Jogja. Lagian, jika aku harus menghabiskan waktu ku dengan seorang nenek nenek seperti nya akan sangat boring.”
“Hush! Mbah Tjitro itu udah baik, jago masak, dia juga seniman, penari dan dia pun juga jago ngebatik. Kamu bisa belajar banyak dengan nya.”
“Ide Bunda sih boleh juga kayaknya. Dari pada aku boring di rumah, seperti nya aku memang butuh suasana baru.”
            Yap! Sudah siap. Baju-baju ku, kamera, asesoris dan alat make up ku sudah siap di tas. Pagi ini aku akan ke Jogja dengan hati yang sangat riang gembira. Ah tak sabar aku, kira kira bagaimana suasana disana nanti ya? Akan kah seperti yang di katakan ibu pada ku?
            Tiba lah aku di jogja, stasiun tugu ini adalah tempat pertama kali aku menapak kan kaki. Disini... Di jogja! Bunda kok belum telefon ya, siapa nih yang jemput aku.
“Hallo Bunda, Bunda... Hallo?”
“Hallo, gimana sayang? Udah nyampek?”
“Iya bunda, ini udah nyampek. Yang mau jemput aku siapa ya?”
“Danu, dia murid dari sanggar tari mbah Tjitro”
            Pandangan ku tiba tiba terpusat pada laki-laki yang berdiri di lobi. Sosok pria berpostur tinggi dan kekar, kulit nya sawo matang. Iya berparas tampan dengan bulu mata yang sangat lentik membawa sebuah kertas bertuliskan Masha Widya Saraspurnama.
“Masha, hallo? Hallo... Masha masih dengar Bunda bicara”
“Oiya Bunda, maaf. Bunda tau ciri-ciri orang yang mau jemput Masha nggak?”
“Orang nya tinggi kekar, Bunda Cuma tau itu.”
“Ohh iya bunda, Masha udah liat. Makasih ya bunda”
“Iya sayang”
            Laki-laki itu masih saja membawa kertas itu dan bertanya-tanya pada setiap wanita yang berlalu lalang di lobi. “Mbak nama nya Masha bukan? Oh maaf. Permisi mbak, mbak Masha Widya Saraspurnama bukan? Oh maaf mbak salah orang.”
Aku tertawa melihat nya, ku angkat tangan ku. “Hi, Danu bukan?”
“Mbak Masha bukan?”
“Iya saya Masha...”
“Ah yang bener? Nama panjang nya siapa?”
“Masha Widya Saraspurnama”
“Umm, ibunya nama nya siapa?”
“Santika saraspurnama”
            Ahh, dia membuat ku kesal, seperti nya dia tak percaya pada ku.
“Ayah nya nama nya siapa?”
            Lagi-lagi dia semakin membuat ku kesal! Dengan muka lusuh aku menjawab
“Romi Baraspurnama! Apa lagi? Mau tanya tempat tinggal ku? Nama nenek ku? Nama kakek ku? Atau gimana? Hemm...”
“Oh, ora mbak ora. Saya sudah percaya kok. Monggo saya antar pulang ke rumah.”
           
Aduh, senyum nya manis banget... Bikin aku kesemsem bukan kepalang
“Ayo Mbak Masha, tunggu apa lagi?”
“Umm, mana mobil nya, di parkir dimana?”
“Kita naik ini ya mbak, naik andong. Ada AC alaminya lho.”
           
Ah, dia membuat ku jadi tak bisa menahan tawa. Ternyata cowo ini gokil juga.
“Ayo Mbak, monggo saya bantu naik.”
“Sebener nya aku takut sama kuda, tapi ya mau gimana lagi.”
“Kuda nya nggak gigit kok mbak”
“Iya deh, Danu! Boleh minta tolong fotoin aku nggak. Buat kenang-kenangan gitu”
“Oh boleh mbak, monggo! Saya hitung ya, satu... dua... eh ehh senyum nya mana mbak? Yaudah saya ulang, tapi senyum ya. Satu... dua... tiga... Sampeyan ayu lho mbak kalau senyum kaya gitu, lesung pipinya mbak itu lho bikin tambah manis.”
“Ahh, kamu bisa aja dan, hehe”
            Akhirnya sampai juga di sanggar mbah Tjitro, ternyata sanggar nya cukup lumayan luas, banyak penari sedang berlatih disana, alunan instrumen gamelan yang berkumandang membuat ku terkagum melihat nya. Setiap gerakan-gerakan mereka tampak mengandung arti, lirikan mata mereka, setiap hentakan kaki mereka yang berirama,itu istimewa.



Selasa, 14 Oktober 2014

Fantasi Ku_ Cerpen @Erlitaa24



  Fantasi Ku

Kegembiraan indah ini harus berakhir dengan kejam!
Dan dalam kemenangan mereka mati, seperti api dan bubuk.
“Sebagaimana mereka bercumbu, menikmatinya”
Beberapa orang mengatakan dunia akan berakhir dengan api,
beberapa orang mengatakan dengan es.
Dari hasrat yang telah kurasakan aku setuju pada mereka yang menyukai api.
Tapi jika aku harus mati dua kali, kurasa aku cukup mengenal kebencian.
Untuk mengatakan bahwa kehancuran dengan es, juga hebat! Dan akan mencukupi.
Masa kecil bukanlah tentang lahir dan menjadi dewasa
Dan saat dewasa, sang anak tumbuh dan membuang hal kekanak kanakan
Masa kecil adalah kerajaan dimana tak ada yang mati
.
Lambat laun kini aku mengerti, kalau semua itu hanyalah fantasi. Inspirasi ku saja yang berlebihan menilai suatu hal. Bisa di bilang fiktif, tetapi entah mengapa selalu terbawa dalam mimpi ku. Hal hal yang di luar nalar terjadi! Entah nyata atau tidak. Aku selalu mengalir di dalam nya, seperti air mata yang mengalir sesuai dengan apa yang ada di pusat pikiran dan emosi ku.
 Cahaya... ada cahaya! Aku membuka mata ku. Ternyata hanya cahaya matahari pagi yang mulai menyinari jendela kamarku. Aku pikir mereka yang datang, para malaikat malaikat aneh yang selalu hampir setiap hari datang di mimpi ku.
“Mereka datang lagi Bu. Sangat terang, mereka bersinar sampai sampai aku tak dapat melihat wajah nya sedikit pun.”
“Kapan? Dan dimana?”
“Di mimpi ku Bu, mereka membawa bongkahan es yang sangat besar. Dan rombongan belakang mereka membawa api yang menyembur sangat kuat. Aku serasa akan di serbu mereka! Aku ketakutan. Ibu mengerti kan?”
“Iya sayang Ibu tau, kalau anak Ibu ini sudah remaja. Pasti banyak sekali inspirasi di otak kamu, itu cemerlang kalau kamu tulis di sebuah cerita. Tapi untuk dunia nyata itu sangat mustahil rasanya, jujur! Ibu sangat  khawatir. Mungkin kamu harus kurangi nonton film-film horor kesukaan mu itu.”
Ibu memang tidak mengerti apa yang aku ingin kan, ya... walaupun aku yakin kalau suatu saat nanti dia pasti mengerti. Tetapi semua itu memang serasa nyata, aku merasa di datangi sosok menyeram kan. Walau pun mereka terkadang terlihat terang seperti cahaya yang sangat kuat. Terkadang mereka juga seperti api, api itu berkorbar sangat kencang. Menyeramkan! Aku sering melihat mereka di mimpi ku, aku tak yakin mereka siapa. Tapi aku sebut mereka malaikat, malaikat yang dalam benakku adalah titisan Tuhan yang berusaha untuk mengeluarkan ku dari belenggu penyakit yang semakin lama mengikis umur muda ku ini. Entah sampai kapan aku bisa bertahan! Atau mungkin memang malaikat malaikat itu memang sengaja datang untuk menjemputku, akankah?
Terkadang aku lebih memilih tidak tidur, kalau harus bertemu mereka dalam mimpi ku lagi.
Kalau memang itu semua hanya fantasi, lalu bagaimana dengan kenyataan yang akan aku hadapi nanti nya. Aku mungkin saja tidak akan bertahan lama, aku menyadari umur ku yang tak lama lagi, penyakit kanker ku ini sudah tak tertahan lagi, belakangan ini aku sering menulis story in my life dalam bentuk cerita pendek yang sesuai dengan apa yang terjadi. Itu sengaja aku lakukan, aku hanya ingin tulisan ku itu berguna bagi banyak orang. Keluarga, teman, saudara, atau siapapun yang mengenalku dapat mengenangku dengan tulisan tulisan ku itu. Aku ingin di kenang mereka dengan karya ku, walaupun memang tak seberapa mungkin.

To realize what we used to have we don’t have it anymore. There’s no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor, so keep in mind all the sacrifices i’m making.
Will keep you by my side, will keep you from walking out the door
cause there’ll be no sunlight if I lose you baby
            Lagu itu seakan jadi kenangan indah untuk ku, setiap syair nya selalu terbayang dalam fikiran ku. Alunan nada nya seperti berbisik di telinga ku. Dia lah yang menemani ku dalam kesepian, lagu itu selalu membuat ku semakin semangat disaat kesedihan, dan kebahagiaan. Semasa kecil ku hingga sekarang ini. Lagu itu selalu ada, bahkan  kadang aku merasa hidup ku serasa seperti puisi yang mengandung banyak majas, seperti majas hiperbola. Berlebihan! Padahal dari kecil aku selalu di beri nasehat sesuatu yang berlebihan itu tak akan pernah baik. Apakah ini semua berlebihan? Bahwa aku ingin bahagia dan aku berusaha untuk itu! Tapi apakah itu benar? Atau malah sebalik nya, hidup ku sangat minimalis. Sederhana, karna aku merasa sendiri. Tiada hasrat yang mampu menarik perhatian ku, kapan aku mulai bangkit? Atau memang aku tak bisa bangkit. Jika semua ini adalah jawaban atas semua pertanyaan dan permohonan ku kepada Mu. Itu tanda nya aku memang tak sanggup, dan bila ini ujian untuk ku akan ku mulai dengan tersenyum. Bila semua ini masih tak berguna, biar aku hadapi ini semua. Tenang dan selalu percaya bahwa mukzizat itu pasti ada.
            Pagi itu aku rasakan sangat sangat sepi, tak ada lagi suara ibu yang biasa nya berteriak teriak membangunkan ku. Tak ada pula jam weker yang biasa nya membuat pagi ku berisik.
Aku terkejut dengan semua yang ada di sekelilingku, “Kenapa semua putih?”. Semua benda benda dikamar ku termasuk cat tembok pun berubah menjadi putih. Lukisan masa kecil ku yang sangat dipenuhi dengan gradasi warna kini hanya menjadi selembar kertas putih yang kosong.
Tiba tiba ada yang memegang tangan ku, aku terkejut dan menutup mataku. Jantung ku berdetak sangat kencang, mungkin karena memang saat itu aku sangat ketakutan. Aku tak berani membuka mataku. “Buka matamu, lihat lah aku. Tidak kah kau merindukan ku?”. Aku mulai membuka mataku perlahan, walaupun di hati ku masih ketakutan. Dia memelukku, menangis dan meneteskan air mata di pundak ku. “Ayah!” dia tersenyum padaku, “mungkin kah? tapi ini mustahil, padahal ayah sudah meninggal tiga tahun yang lalu”. Ayah menarik tangan ku, dia seperti menarik ku kearah cahaya yang begitu sangat terang. “Apa itu? kita mau kemana ayah?” ayah hanya tersenyum, dia tak menjawab pertanyaan ku. Semakin ku mendekati cahaya itu badan ku semakin serasa melayang, entah apa itu. Aku tak peduli! Yang pasti aku bisa bertemu ayah ku lagi, aku sangat menikmatinya. Dalam hati ku “mungkin ini mimpi, tapi biarlah biar aku nikmati semua ini. Andai semua dapat ku kendalikan, aku tak mau terbangun dari mimpi indah ini.”
 “Ikutlah ayah, ayo ikutlah ayah!” terdengar suara tangisan, “Siapa itu?” seperti suara Ibu. Ayah, kenapa ibu menangis? Dimana dia?” Cahaya itu semakin lama semakin menghilang, tiba tiba sampai lah aku dan ayah di suatu keramaian. Tapi semua orang menangis, ada apa? Apa yang terjadi ini. “Peti mayat? Siapa yang meninggal? Ayah! Jawab pertanyaan ku!” ayah mengacungkan jarinya kearah ku. “Aku? Maksut ayah apa?” Iya Ayah benar, ternyata memang aku, Aku telah meninggal dunia. Foto ku terpajang di atas peti mayat itu. Mungkin memang inilah akhir hidup ku, kini aku harus rela membiarkan ibu ku hidup sebatang kara. Tapi aku benar benar tak percaya ini semua terjadi, inikah rasa nya mati? Terdengar suara kaki yang berjalan menuju ke arah ku “Siapa itu? aku tak bisa melihatnya.” Suara itu semakin mendekat, “Buka matamu! Ayo bangunlah” Ada kekuatan yang menarik ku ke arah belakang yang gelap. Sedangkan aku ingin kedepan menuju arah suara itu, aku berusaha terus kedepan tapi kekuatan itu semakin kuat. Ku coba tenang, mungkin dengan tenang bisa membantu ku untuk lebih kuat. Kekuatan itu semakin melemah, aku mendekati suara itu. Serasa melewati sebuah lorong yang di penuhi cahaya. “Seperti di rumah sakit, bukan nya aku sudah mati?”
“Hush! Ngomong apa kamu! Kamu sekarang di rumah sakit Erlita... Ibu sudah menunggu mu siuman selama tujuh hari. Tujuh hari yang lalu kamu di operasi, dan bersyukur setelah di uji kembali semua penyakit kamu sudah bisa teratasi seratus persen. Bersyukurlah sayang, berhari hari ibu cemas dengan kondisi kamu.”
“Berarti aku masih hidup? Aku sembuh?” Ibu ku meneteskan air mata. Itu artinya saat aku bertemu ayah kemarin ada lah saat-saat aku koma. Syukurnya aku berhasil keluar dari zona itu, aku masih tak menyangka penyakit berat ku itu bisa tersembuhkan. Aku masih bisa melanjutkan hidup ku seperti lima tahun lalu, saat tubuhku masih normal. Dan kini aku pun semakin tau, kalau mereka para malaikat malaikat misterius itu hanya lah fantasi. Hanya mimpi ku saja, termasuk saat aku bertemu ayah.
Pada akhirnya aku masih bisa merasakan pelukan ibu kesayangan ku ini, dan hal terindah lain nya adalah tubuh ku tak bergantung lagi pada obat obatan yang membuat ku mual setiap hari nya. Kepala ku tak lagi pusing, wajah ku tak lagi pucat. Aku normal!

Relationship_CERPEN



Hello Publickers? Salam keceriaan untuk kita semua, thanks buat kalian yang udah baca blog aku. Tunggu cerpen aku selanjutnya ya, and get follow my twitter. @Erlitaa24 , mau kasih question atau kritik? Langsung aja ke email aku Erlita.yuniya24@gmail.com . See You Next time J Selamat membaca!
~
RELATIONSHIP
Cinta? Jangan tanyakan hal itu lagi, untuk cewe remaja seusiaku ini. Umur lima belas tahun bukan lah waktu yang tepat untuk mendefinisikan arti kata cinta. Tapi apa boleh buat, dalam usia sedini ini semua hal menjadi teramat rancu. Terutama saat ini, mungkin cinta adalah penghianatan mu yang tak bisa aku salah kan. Atau mungkin cinta adalah kepercayaan ku yang telah kamu salah gunakan, atau bisa jadi cinta adalah jarak dan kesibukan ku yang kamu jadikan alasan penghianatan, atau bahkan mungkin cinta hanya sekedar bintang terang yang melesat jatuh tanpa makna apapun.
Terserahlah...
Apapun makna dari cinta, bukan kah mengimplementasikannya jauh lebih penting dari pada sekedar mendebatkan definisinya? Suer deh aku emang nggak pernah nyalahin kamu, sebab! Mungkin begitu lah semestinya. Hanya saja aku nggak habis pikir,  mengapa perih ini harus ada? karena, setahuku cinta hanya mendatangkan suka, tawa dan hujan cahaya. Waw! Exciting banget ya, tetapi setelah berbulan bulan berlalu baru kali ini ku rasakan. Ada sedikit goresan kata sakit yang mungkin sengaja kamu kasi untuk ku. Sering sekali kamu chatting aku di saat kesibukan ku, kadang kamu juga sering menelpon ku tanpa kenal waktu. Tapi bodohnya aku, aku tak pernah pedulikan itu. “Jauh-jauh kesini tekad ku untuk fokus belajar bukan untuk yang lain” sering kali aku katakan itu saat dia mulai menanyakan alasan mengapa aku tak ada waktu pribadi untuk nya lagi.  Dan pada akhirnya, malam itu “Tiang mencintaimu, tapi saat kita berjauhan sulit bagi ku bertahan dengan setia ku... namanya Luna, dia menemaniku saat kamu memilih meninggalkan Bali dan aku, salahkah aku?”. Aku menangis setelah aku membaca chat dari nya. Entah sejak kapan dia sepuitis itu, aku menerkam hp ku sehabis itu. Ku coba hargai bahasa jujurmu, walaupun untuk dapat memahami nya aku butuh waktu semalam suntuk untuk mengelilingi kota Yogya dengan mata berair.
Aku coba tenang dengan memandangi kota yogya, seiring waktu berlalu terdengar suara hp ku yang berdering lagi. “Mungkin mesage dari dia lagi” entah kenapa aku malah takut untuk melihat pesan nya lagi. Aku berfikir untuk mendiamkan nya saja, aku malah lebih keasyikan melihat kuda yang menarik andong yang kutunggangi ini. “Tapi lama-lama penasaran juga sih. Mungkin sebaik nya aku buka saja chat nya”. “Kamu akan baik-baik saja, sebab tiang tahu kamu demikian adanya. Kokoh! Aku tak akan meminta maaf, karena seiring waktu berjalan aku tahu kamu akan memaafkan ku tanpa aku pinta. Meski ada Luna kini, tak berkurang rasa ku pada mu” akh sulit memang memahami kaummu. Tak ku sangka bahasa orang Bali memang sepuitis ini, sampai sampai aku terharu dan sepertinya akan meneteskan air mata. Memang seharus nya aku sadari, kalau mungkin memang dia tidak berjodoh dengan ku. Kali ini pangeran neptunus tidak berpihak kepada ku.
Lemas sudah sekujur tubuh ku, belum genap lima belas tahun ku ini sebegini sulit nya ya arti cinta buat ku? Oh my god! Sejauh ini kah aku telah berlabuh di dunia dewasa?
Semula aku berharap bisa mengungsi ke planet pluto agar tidak ada kemungkinan untuk bertemu lagi, atau mencuci bersih otak ku dari semua ingatan mu. Kalau itu masih belum berhasil, ya apa boleh buat. Mungkin dengan terpaksa aku akan memendam seluruh perasaan ini.
Tapi pada akhirnya, kamu lah yang benar. Ternyata aku baik baik saja. Malam setelah aku baca pesan mu, telah kuratapi dan ku tangisi lukaku sepuas-puas nya dan esok hari nya aku merasa sebagai orang yang baru.
Bukan! Bukan berarti aku benar-benar telah berpindah ke planet pluto, atau bukan berarti cinta ku luntur oleh tangis semalam. Kamu tetap ada dengan warna yang “semoga” lebih dewasa. Bayangmu yang makin menjauh membuatku paham bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Dan kehilangan atas apapun itu suatu hal yang wajar. Jejak langkah yang kau tinggal di hati ku membuat ku sadar bahwa tak pantas bagiku untuk memelihara rasa kepemilikan, baik itu atas diri mu, diriku sendiri, atau siapapun! Sebab bukan kah kepemilikan hanya lah milik Tuhan semata?
Thank Damar... atas sebagian makna cinta yang pernah kamu cipta. Atas kejujuran mu, atas pelajaran berharga dari sebuah penghianatan, atas semuanya... Telah ku maknai cinta dengan cara ku sendiri.  Dengan berdiri tegak menatap hari depan ku, memenjarakan diri dengan tumpukan buku sekolah ku, menyibuk kan diri dengan mengetik karya cerpen ku, dengan menikmati ice cream di sela kesibukan ku, menenggelam kan diri di dalam musik kesukaan ku, menonton serial komedi, dan menghitung jumlah bintang di atas balkon rumah ku yang mungkin dengan sengaja mereka datang untuk mengunjungi ku. Bahkan mungkin mereka bisa tau suana hati ku, karena saat aku melihat keindahan mereka... dengan waktu yang bersamaan aku meluapkan perasaan ku yang teramat dalam ini. Karena aku tau nggak akan ada lagi pendengar seramah Kinan yang selalu tersenyum walau saat aku menangis. Dia membangkitkan senyum ku, bahkan aku masih ingat senyuman nya sampai saat ini. Walau hampir dua tahun aku tak menemui nya, kornea matanya yang bewarna kecoklatan itu masih aku ingat. Tangan nya yang mengusap pipi ku waktu itu, pundak nya yang sengaja dia gunakan untuk meletakkan kepala ku. Mungkin aku banyak berubah, dari cara berbahasa ku yang kata mu “loe gue loe gue” itu, bahkan aku masih ingat saat kamu melihat akun peth ku. Dengan lantang nya “Kamu tak secupu dulu, foto mu sangat berbeda” katamu,   teman-teman ku kini yang kamu kata “tak seperti pergaulan mu dulu”. Dengan mudah nya aku mengatakan bahwa itu hak ku, “aku berhak melakukan apapun, aku nggak pernah merasa melanggar aturan orang tua ku. Aku juga nggak salah pilih teman! Mereka membawa ku ke zona modern. Aku ingin terlihat lebih di mata mu.” Tapi apa kini? Ternyata aku yang salah. Semua itu justru bikin kamu merasa nggak nyaman lagi. Mungkin memang kesederhanaan lah yang kamu minta. Seperti kita dulu, dengan cara sederhana lah kita saling mengenal, dengan cara sederhana lah kita saling berteman, dengan cara sederhana lah kita saling ingin menjaga, dan dengan cara sederhana lah kamu ingin ku tetap setia. Dan perhatian mu itu loh bikin aku nggak pernah lupa. “Tiang perhatian sama Kinan, jaga diri ya. Tetap jaga martabat kamu sebagai wanita, karena itu lah yang membuat Kinan istimewa di mata tiang.” Itu yang selalu kamu ucapin tiap hari nya. Dia lah satu satu nya orang yang memangggil ku Kinan, sangatlah berbeda dengan nama asliku Erlita. Tapi justru itu lah yang membuat ku selalu mengingat nya, nantinya mungkin tak ada lagi yang memanggil ku Kinan.
Terkadang aku berharap kalau Luna itu hanya pelampiasan mu,  ya memang sudah aku sadari kalau memang cuma kamu yang tau semua. Tau bagaimana menghadapi keegoisan ku ini, aku tau! Aku lebih mementingkan pribadi ku sendiri tanpa mempedulikan orang lain, bahkan kamu. Tapi aku melakukan ini semua bukan lah tanpa sebab, dengan ini semua, dengan perjuangan ku, dengan semua usaha ku aku cuma pengen masa depan ku baik nanti. Tapi flash back memang semua salah aku, aku terlalu teropsepsi dengan semua ini. Bahkan aku terlalu berani untuk hidup di luar pulau sendirian, dengan umur yang menurut ku sedini ini, tapi itu semua aku lakukan karena aku merasa mampu, sangat mampu! Akan selalu ku buktikan itu.
Jarak sangat lah jahat di mata ku ketika aku dihinggapi ingatan akan lelaki itu, Damar memang berhak mendapatkan wanita paras cantik dan juga baik seperti Luna. Betapa bahagianya aku jika dunia hanya selebar lapangan sepak bola di kampungku, hingga tentu saja semua orang penghuni tetap nuraniku bisa lengkap ter-cover di dalamnya. Hingga relung hati nggak perlu lagi merasakan denting perih yang di namakan rindu.
Duh jarak... Mengingat nya membuatku menjadi dongkol sendiri. Saat itu ketika aku resah di landa ketakutan, di tengah sakit fisik yang membelit bersebab keroposnya ginjal yang selama ini aku anggap remeh, Damar tak hentinya mengairkan oase kekuatan untukku. Sikapnya yang menyentuh, tapi lebih dari itu semua.
Akh, cinta... kenapa sih harus berkolaborasi dengan jarak? Tapi tunggu dulu... Pernah nggak sih, kamu ngerasa resah yang tak berujung saat tak mendengar suara renyah kekasih jiwa?  Oh Tuhan, sesulit ini kah memendam rasa.  
Twitter : @Erlitaa24
Erlita.yuniya24@gmail.com
Thanks udah baca, semoga kisah ini bermamfaat buat kalian. Mohon kritik dan saran yaa J