Senin, 12 Januari 2015



Jogja Boy Dancer

CERPEN By :
Erlita.yuniya24@gmail.com
@Erlitaa24

Ah, senang nya jadi remaja seperti ku.
Tiap hari bisa bersanding  dengan teman-teman yang sungguh sangat menyayangi ku.
Bercanda riang, saling pengertian, curhat-curhatan,
bahkan membicara kan kekasih pujaan sendiri pun tak sungkan.
Lucu nya melihat foto-foto ku masa remaja,
insya’allah akan menjadi memory indah ku untuk kelak aku dewasa.
Istilah nya sekarang ini aku sedang proses masa ke jenjang dewasa,
sebisa mungkin aku akan menggunakan waktu ku sebaik mungkin.
Karena aku tak pernah tau, sampai kapan waktu ku akan berakhir.

            Aduh, senangnya... liburan akan tiba! Ayah mengajak ku berkunjung ke Korea Selatan. Ayah akan dinas disana, mungkin untuk beberapa waktu lama nya. “Nggak sabar binggo deh!” disana aku berencana ingin melihat konser boy band Super Junior yang sudah aku dambakan sejak lama. Aku tak sanggup membayangkan wajah tampan mereka yang bisa aku liat secara langsung. Excited banget! “Coba aja kalau liburan ku mulai minggu depan, mungkin aku akan lebih lama liburan di korea dan bisa foto selvie di sana, yey!.”  
“Masha...”
“Iya Bunda...”
“Telepon dari ayah.”
“Iya ayah, ada apa?
Ah ayah... Padahal aku sudah pengen banget liburan ke sana,
Emm... tapi yah.
Kenapa? Bukan nya ayah sudah janji.
tapi yah... Please!!
emm, yaudah yah. Tidak apa-apa.”
“Bunda... bunda... bun”
“Iya Masha... ada apa? Kok cemberut?”
“Ayah membatal kan rencana untuk ke korea katanya, dia untuk sementara waktu harus tinggal di Jakarta untuk mengurus hal-hal penting yang ada disini katanya.”
“Yasudah, kan kamu kapan-kapan bisa liburan kesana untuk liburan tahun depan.”
“Tapi bun, lalu bagaimana dengan rencana liburan ku semester ini.”
“Ya mungkin kamu bisa mengunjungi tempat-tempat lain yang tentu lebih mengasyik kan.”
“Ah Bunda... aku sudah mengimpikan kalau aku akan jalan-jalan ke Korea dengan Ayah.”
“Bagaimana kalau kamu berkunjung ke Jogja! Disana seru loh. Kamu bisa menginap ke rumah mbah Tjitro. Dia jago masak makanan-makanan kesukaan mu.”
“Aduh Bunda... Please deh! Sejak kapan Korea bisa mirip sama Jogja. Lagian, jika aku harus menghabiskan waktu ku dengan seorang nenek nenek seperti nya akan sangat boring.”
“Hush! Mbah Tjitro itu udah baik, jago masak, dia juga seniman, penari dan dia pun juga jago ngebatik. Kamu bisa belajar banyak dengan nya.”
“Ide Bunda sih boleh juga kayaknya. Dari pada aku boring di rumah, seperti nya aku memang butuh suasana baru.”
            Yap! Sudah siap. Baju-baju ku, kamera, asesoris dan alat make up ku sudah siap di tas. Pagi ini aku akan ke Jogja dengan hati yang sangat riang gembira. Ah tak sabar aku, kira kira bagaimana suasana disana nanti ya? Akan kah seperti yang di katakan ibu pada ku?
            Tiba lah aku di jogja, stasiun tugu ini adalah tempat pertama kali aku menapak kan kaki. Disini... Di jogja! Bunda kok belum telefon ya, siapa nih yang jemput aku.
“Hallo Bunda, Bunda... Hallo?”
“Hallo, gimana sayang? Udah nyampek?”
“Iya bunda, ini udah nyampek. Yang mau jemput aku siapa ya?”
“Danu, dia murid dari sanggar tari mbah Tjitro”
            Pandangan ku tiba tiba terpusat pada laki-laki yang berdiri di lobi. Sosok pria berpostur tinggi dan kekar, kulit nya sawo matang. Iya berparas tampan dengan bulu mata yang sangat lentik membawa sebuah kertas bertuliskan Masha Widya Saraspurnama.
“Masha, hallo? Hallo... Masha masih dengar Bunda bicara”
“Oiya Bunda, maaf. Bunda tau ciri-ciri orang yang mau jemput Masha nggak?”
“Orang nya tinggi kekar, Bunda Cuma tau itu.”
“Ohh iya bunda, Masha udah liat. Makasih ya bunda”
“Iya sayang”
            Laki-laki itu masih saja membawa kertas itu dan bertanya-tanya pada setiap wanita yang berlalu lalang di lobi. “Mbak nama nya Masha bukan? Oh maaf. Permisi mbak, mbak Masha Widya Saraspurnama bukan? Oh maaf mbak salah orang.”
Aku tertawa melihat nya, ku angkat tangan ku. “Hi, Danu bukan?”
“Mbak Masha bukan?”
“Iya saya Masha...”
“Ah yang bener? Nama panjang nya siapa?”
“Masha Widya Saraspurnama”
“Umm, ibunya nama nya siapa?”
“Santika saraspurnama”
            Ahh, dia membuat ku kesal, seperti nya dia tak percaya pada ku.
“Ayah nya nama nya siapa?”
            Lagi-lagi dia semakin membuat ku kesal! Dengan muka lusuh aku menjawab
“Romi Baraspurnama! Apa lagi? Mau tanya tempat tinggal ku? Nama nenek ku? Nama kakek ku? Atau gimana? Hemm...”
“Oh, ora mbak ora. Saya sudah percaya kok. Monggo saya antar pulang ke rumah.”
           
Aduh, senyum nya manis banget... Bikin aku kesemsem bukan kepalang
“Ayo Mbak Masha, tunggu apa lagi?”
“Umm, mana mobil nya, di parkir dimana?”
“Kita naik ini ya mbak, naik andong. Ada AC alaminya lho.”
           
Ah, dia membuat ku jadi tak bisa menahan tawa. Ternyata cowo ini gokil juga.
“Ayo Mbak, monggo saya bantu naik.”
“Sebener nya aku takut sama kuda, tapi ya mau gimana lagi.”
“Kuda nya nggak gigit kok mbak”
“Iya deh, Danu! Boleh minta tolong fotoin aku nggak. Buat kenang-kenangan gitu”
“Oh boleh mbak, monggo! Saya hitung ya, satu... dua... eh ehh senyum nya mana mbak? Yaudah saya ulang, tapi senyum ya. Satu... dua... tiga... Sampeyan ayu lho mbak kalau senyum kaya gitu, lesung pipinya mbak itu lho bikin tambah manis.”
“Ahh, kamu bisa aja dan, hehe”
            Akhirnya sampai juga di sanggar mbah Tjitro, ternyata sanggar nya cukup lumayan luas, banyak penari sedang berlatih disana, alunan instrumen gamelan yang berkumandang membuat ku terkagum melihat nya. Setiap gerakan-gerakan mereka tampak mengandung arti, lirikan mata mereka, setiap hentakan kaki mereka yang berirama,itu istimewa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar